Gaya hidup tidak sehat membuat mereka yang berusia muda, yaitu antara 18-45 tahun, semakin berisiko terkena stroke. Kebiasaan merokok dan mengonsumsi makanan berlemak meningkatkan risiko stroke di kalangan ini.
Stroke adalah gangguan fungsi otak karena pasokan darah ke otak terganggu. Gangguan pasokan darah ini bisa menyebabkan kerusakan permanen pada otak, bahkan bisa menyebabkan kematian.
Dulu stroke banyak ditemukan pada orang lanjut usia. Namun, seiring dengan perubahan gaya hidup, terutama masyarakat di kota besar, stroke cenderung mulai menyerang usia muda atau kelompok usia produktif.
Menurut data dasar rumah sakit di Indonesia, seperti diungkapkan Yayasan Stroke Indonesia (www.yastroki.or.id), angka kejadian stroke mencapai 63,52 per 100.000 pada kelompok usia 65 tahun ke atas. Secara kasar, setiap hari dua orang Indonesia terkena stroke.
Meski banyak menimpa usia tua, stroke di usia muda harus diwaspadai. Situs Yayasan Stroke Indonesia, menyebutkan ada kecenderungan stroke menyerang usia muda meski situs ini tidak menyebutkan berapa jumlah penderita stroke di usia muda.
Menurut dokter konsultan pembuluh darah otak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salim Harris, stroke bisa dibedakan menjadi dua, yaitu stroke perdarahan dan stroke sumbatan.
Stroke perdarahan paling banyak disebabkan oleh hipertensi dan kelainan pembuluh darah, seperti aneurisma (pembuluh darah menipis). Tercatat 80 persen stroke perdarahan disebabkan karena hipertensi, sedangkan 20 persen disebabkan kelainan pembuluh darah.
Salim mengatakan, stroke perdarahan terjadi karena ketidakstabilan pada pembuluh darah. Lonjakan tekanan darah akan membentur pembuluh darah yang paling tipis hingga pecah dan terjadi perdarahan.
Penggunaan obat-obatan amfetamin dan konsumsi alkohol memicu terjadinya stroke perdarahan. Stroke perdarahan bisa terjadi baik di dalam otak maupun di dalam kantong otak.
"Orang yang memakai amfetamin jantungnya memompa lebih cepat dari biasanya. Apabila ada pembuluh darah di otak yang menipis seperti aneurisma, maka pembuluh darah itu spontan bisa pecah," kata Salim.
Menurut penelitian di kalangan kesehatan, populasi laki-laki terkena stroke lebih banyak daripada perempuan, tetapi selisihnya tidak jauh berbeda. Sebagai gambaran, penelitian dari Northern Manhattan Stroke Study di Amerika menyebutkan, 53 persen laki-laki terkena stroke, sedangkan perempuan yang terkena stroke 47 persen.

